Sabtu, 05 Juni 2010

How to screening tshirt

Equipment
Screening paint
Tshrit
Screen
Ulano
Glass
Rachel

first,
evenly ulano in screen,

second,
Print your screening picture, and than put in the screen,

Third,
dry in the sun until 5-7 minute






Fourth,
Clean the screen with flow water and than dry it

Fiveth,
put the tshrit in screen, then put the screening paint in screen too,use the rachel to evenly the screening paint and push it

Last, dry the tshirt in the shade

you must try this

How to cultivation Betta splendens (ikan cupang)




Equipment:
1. Bucket
2. Hose
3. Water dipper

First, put the male fish in the bucket until 2 days, if it make a bubble so you must put the female fish in the bucket too.
After that fish lay egg in the 2 or 3 days
Usually the fish lay eggs in the morning, at the 10pm or 11pm.

if the female lay eggs..The female fish must put in the other place, cz sometimes the female fish eaten the eggs.
And the male fish will keep that eggs so dont put the male fish from the bucket.

after 2 or 3 days the eggs will hatched..
2 days the eggs hatched put the male in the other place..
feed that fish after 2 days hatched, feed the small fish a plankton, renik, or water louse..
if the age is 2 week feed that fish a silk worm or larva.

so after this you can try it by your self,.

Kamis, 22 April 2010

Cash Flow Management: 10 Rules You Can't Ignore

The statistics on small business failure are alarming.

Michael Gerber, author of "The E-Myth: Why Most Small Businesses Don't Work and What To Do About It", says that 40% of businesses fail in their first year. 80% fail within their first five years.

THEY RAN OUT OF CASH.

Don't let this happen to you.

Here are 10 Rules to help you take control of your cash flow so you can create the business you have always dreamed of.

1. Never Run Out of Cash
Running out of cash is the definition of failure in business. Make the commitment to do what it takes so it does not happen to you.

2. Cash Is King
It's important to recognize that cash is what keeps your business alive. Manage it with the care and attention it deserves. It's very unforgiving if you don't.

Remember, Cash Is King, because No Cash = No Business.

3. Know the Cash Balance Right Now
What is your cash balance right now? It's absolutely critical that you know exactly what your cash balance is.

Even the most intelligent and experienced person will fail if they are making business decisions using inaccurate or incomplete cash balances. That's the reason why business failures are not limited to amateurs or people new to the business world.

4. Do Today's Work Today
The key to keeping an accurate cash balance in your accounting system is to do today's work today. When you do this, you will have the numbers you need - when you need them.

5. Either You Do the Work or Have Someone Else Do It
Here is a simple rule to follow to make sure you have an accurate cash balance on your books. You do the work or have someone else do it.

Those are the only two choices you have. The work must be done. It's like mowing the lawn. You can't just ignore it. Someone has to do it. That means either you do it or you have someone else do it.

6. Don't Manage From the Bank Balance
The bank balance and the cash balance are two different animals. Rarely will the two ever be the same. Don't make the mistake of confusing them.

It's futile (and frustrating) to attempt to manage your cash flow using the bank balance. It's a prescription for failure. You reconcile your bank balance. You don't manage from it.

7. Know What You Expect the Cash Balance to be Six Months From Now.
What do you expect your cash balance to be six months from now? This one question will transform the way you manage your business.

This question really gets to the heart of whether you are managing your business or whether your business is managing you.

8. Cash Flow Problems Don't "Just Happen"
You would be shocked and amazed at the number of businesses that fail because the owner did not see a cash flow problem in time to do something about it.

The key is to always be able to answer the question - what do I expect my cash balance to be six months from now?

9. You Absolutely, Positively Must Have Cash Flow Projections
Cash flow projections are the key to making wise and profitable business decisions. They give you the answer to the all-important question from Rule # 7.

It's impossible to run your business properly without them.

10. Eliminate Your Cash Flow Worries So You Are Free to Do What You Do Best - Take Care of Customers and Make More Money

Use these 10 Rules to free yourself from cash flow worries. That way you can focus all your time and talents where you can make the most difference in your business.

No more wasted time worrying about what's going on with your cash flow. Instead, you can focus your unique talents and abilities each day on ways to grow your business and make more and more money each year.

And that's a recipe for success and wealth creation.

Rabu, 21 April 2010

tugas bahasa inggris

Halaman 44 Exercise 2

1. My parents watching television now
Not count nouns, karena diawali kata kerja
2. Rani’s father just buying a new car
Count nouns, karena diawali kata jumlah
3. I reads news on timesmagazine
Not count nouns, karena diawali kata kerja
4. My brother was studied geography
Not count nouns, karena diawali kata kerja
5. Please keep the atmosphere before it being damage
Not count nouns, karena diawali kata kerja
6. She is cleaver person
Count nouns, karena menunjukan jumlah
7. Dicky feels thirsty,and drink a glass water
Count nouns, karena diawali kata jumlah
8. I draw a picture with 2B pencil
Not count nouns, karena menunjukan kata benda
9. Eva like sea food, But I like fast food
Not count nouns, karena menunjukan jenis-jenis
10. My sister will go to dentist tommorow to check her tooth
Not count nouns, karena menunjukan benda

Senin, 11 Januari 2010

Pengusaha Minta Tahu Tempe Diekspor

Jika swasembada kedelai di Indonesia nantinya terwujud, Forum Induk Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Inkopti) meminta agar tahu dan tempe bisa diekspor hingga ke luar negeri. Apalagi, tempe dan tahu tidak hanya disenangi oleh warga Indonesia.

Hal ini dikatakan Anggota Forum Inkopti Sutarjo ketika memberi keterangan kepada wartawan usai bertemu Wapres Boediono di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (8/1/2010).

"Kami meminta agar produksi tahu tempe diekspor ke luar negeri," ucap Sutardjo. Menurutnya, negara yang paling potensial menjadi sasaran ekspor tahu tempe adalah negara-negara yang terdapat banyak warga Indonesia perantauan. "Apalagi kalau musim haji, ekspor ke Arab saudi sangat bagus," ujar Sutardjo.

Namun agar produksi tahu dan tempe bisa tercapai, Inkopti berharap keinginan swasembada kedelai lebih dahulu tercapai. Mereka pun meminta agar ada langkah-langkah konkret dari pemerintah agar target swasembada kedelai terwujud.

"Harus ada langkah konkret seperti pemberian insentif kepada petani agar fokus menanam kedelai," ucapnya.

Menurut Sutardjo, selama ini para petani kedelai hanya menjadikan kedelai sebagai tanaman sampingan seperti halnya jagung, lantaran kurangnya suntikan insentif.

Langkah lain menurut Sutardjo adalah perluasan lahan hingga 800 ribu hektar lahan kedelai, karena ini bisa membuka lapangan kerja baru hingga 500 ribu orang.

Sementara itu, Wapres Boediono berjanji akan mengkoordinasikan keinginan Forum Inkopto dengan menteri terkait. Boediono juga berjanji untuk membantu memenuhi kebutuhan para pengrajin dan produsen tahu dan tempe.

Sumber; http://www.detikfinance.com/read/2010/01/08/112629/1274169/4/pengusaha-minta-tahu-tempe-diekspor

Senin, 28 Desember 2009

Etika Bisnis dan Pendidikan

Etika Bisnis dan Pendidikan

Dalam sistem perekonomian pasar bebas, perusahaan diarahkan untuk mencapai tujuan mendapatkan keuntungan
semaksimal mungkin, sejalan dengan prinsip efisiensi. Namun, dalam mencapai tujuan tersebut pelaku bisnis kerap
menghalalkan berbagai cara tanpa peduli apakah tindakannya melanggar etika dalam berbisnis atau tidak.

Hal ini terjadi akibat manajemen dan karyawan yang cenderung mencari keuntungan semata sehingga terjadi
penyimpangan norma-norma etis, meski perusahaan-perusahaan tersebut memiliki code of conduct dalam berbisnis
yang harus dipatuhi seluruh organ di dalam organisasi. Penerapan kaidah good corporate governace di perusahaan
swasta, BUMN, dan instansi pemerintah juga masih lemah. Banyak perusahaan melakukan pelanggaran, terutama dalam
pelaporan kinerja keuangan perusahaan.

Prinsip keterbukaan informasi tentang kinerja keuangan bagi perusahaan terdaftar di BEJ, misalnya seringkali dilanggar
dan jelas merugikan para pemangku kepentingan (stakeholders),terutama pemegang saham dan masyarakat luas
lainnya.Berbagai kasus insider trading dan banyaknya perusahaan publik yang di-suspend perdagangan sahamnya oleh
otoritas bursa menunjukkan contoh praktik buruk dalam berbisnis. Belum lagi masalah kerusakan lingkungan yang terjadi
akibat eksploitasi sumber daya alam dengan alasan mengejar keuntungan setinggi-tingginya tanpa memperhitungkan
daya dukung ekosistem lingkungan.

Bisa dibayangkan, dampak nyata akibat ketidakpedulian pelaku bisnis terhadap etika berbisnis adalah budaya korupsi
yang semakin serius dan merusak tatanan sosial budaya masyarakat. Jika ini berlanjut, bagaimana mungkin investor
asing tertarik menanamkan modalnya di negeri kita? Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang mengapa kesemua ini
terjadi? Apakah para pengusaha tersebut tidak mendapatkan pembelajaran etika bisnis di bangku kuliah? Apa yang salah
dengan pendidikan kita, karena seharusnya lembaga pendidikan berfungsi sebagai morale force dalam menegakkan nilai-
nilai kebenaran dalam berbisnis?

Bagaimana sebenarnya etika bisnis diajarkan di sekolah—kalaupun ada—dan di perguruan tinggi? Etika bisnis
merupakan mata kuliah yang diajarkan di lingkungan pendidikan tinggi yang menawarkan program pendidikan bisnis dan
manajemen. Beberapa kendala sering dihadapi dalam menumbuhkembangkan etika bisnis di dunia pendidikan.
Pertama, kekeliruan persepsi masyarakat bahwa etika bisnis hanya perlu diajarkan kepada mahasiswa program
manajemen dan bisnis karena pendidikan model ini mencetak lulusan sebagai mencetak pengusaha. Persepsi demikian
tentu tidak tepat. Lulusan dari jurusan/program studi nonbisnis yang mungkin diarahkan untuk menjadi pegawai tentu
harus memahami etika bisnis. Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha,
termasuk dalam berinteraksi dengan stakeholders, termasuk tentunya karyawan.

Etika bisnis sebaik apa pun yang dicanangkan perusahaan dan dituangkan dalam pedoman perilaku, tidak akan berjalan
tanpa kepatuhan karyawan dalam menaati norma-norma kepatutan dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Kedua,
pada program pendidikan manajemen dan bisnis, etika bisnis diajarkan sebagai mata kuliah tersendiri dan tidak
terintegrasi dengan pembelajaran pada mata kuliah lain. Perlu diingat bahwa mahasiswa sebagai subjek didik harus
mendapatkan pembelajaran secara komprehensif. Integrasi antara aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif dalam proses
pembelajaran harus diutamakan. Sehingga masuk akal apabila etika bisnis—aspek afektif/ sikap dalam hal ini—
disisipkan di berbagai mata kuliah yang ditawarkan. Ketiga, metode pengajaran dan pembelajaran pada mata kuliah ini
cenderung monoton.Pengajaran lebih banyak menggunakan metode ceramah langsung.

Kalaupun disertai penggunaan studi kasus, sayangnya tanpa disertai kejelasan pemecahan masalah dari kasus-kasus
yang dibahas. Hal ini disebabkan substansi materi etika bisnis lebih sering menyangkut kaidah dan norma yang
cenderung abstrak dengan standar acuan tergantung persepsi individu dan institusi dalam menilai etis atau tidaknya
suatu tindakan bisnis. Misalnya, etiskah mengiklankan sesuatu obat dengan menyembunyikan informasi tentang indikasi
pemakaian? Atau membahas moral hazard pada kasus kebangkrutan perusahaan sekelas Enron di Amerika Serikat.
Keempat, etika bisnis tidak terdapat dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

Nilainilai moral dan etika dalam berperilaku bisnis akan lebih efektif diajarkan pada saat usia emas (golden age) anak,
yaitu usia 4–6 tahun. Karena itu, pengajarannya harus bersifat tematik. Pada mata pelajaran agama, misalnya, guru bisa
mengajarkan etika bisnis dengan memberi contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW berdagang dengan tidak
mengambil keuntungan setinggi langit. Kelima, orangtua beranggapan bahwa sesuatu yang tidak mungkin mengajarkan
anak di rumah tentang etika bisnis karena mereka bukan pengusaha. Pandangan sempit ini dilandasi pemahaman
bahwa etika bisnis adalah urusan pengusaha.

Padahal, sebenarnya penegakan etika bisnis juga menjadi tanggung jawab kita sebagai konsumen. Orangtua dapat
mengajarkan etika bisnis di lingkungan keluarga dengan jalan memberi keteladanan pada anak dalam menghargai hak
atas kekayaan intelektual (HaKI), misalnya dengan tidak membelikan mereka VCD, game software, dan produk bajakan
lain dengan alasan yang penting murah. Keenam, pendidik belum berperan sebagai model panutan dalam pengajaran
etika bisnis. Misalnya masih sering kita mendapati fenomena orangtua siswa memberi hadiah kepada gurunya pada saat
kenaikan kelas dengan alasan sebagai rasa terima kasih dan ikhlas.

Pendidik menerima hadiah tersebut dengan senang hati dan dengan sengaja menunjukkan hadiah pemberian orangtua
siswa tersebut kepada teman sejawatnya dengan memuji-muji nilai atau besaran hadiah tersebut. Tidakkah kita sadari,
kondisi seperti ini akan memberikan kesan mendalam pada anak kita? Mengurangi praktik pelanggaran etika dalam
berbisnis merupakan tanggung jawab kita semua. Sebagai pengusaha, tujuan memaksimalkan profit harus diimbangi
peningkatan peran dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Perusahaan turut melakukan pemberdayaan kualitas hidup
masyarakat melalui program corporate social responsibility (CSR).

Pada saat kita berperan sebagai konsumen, seyogianya memahami betul hak dan kewajiban dalam menghargai karya
orang lain. Orangtua harus menjadi model panutan dengan memberikan contoh baik tentang perilaku berbisnis kepada
anak sehingga kelak mereka akan menjadi pekerja atau pengusaha yang mengerti betul arti penting etika bisnis.
Pemerintah sebagai regulator pasar turut berperan mengawasi praktik negatif para pelaku ekonomi. Sudah saatnya
pemerintah mempertimbangkan etika bisnis termuat dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Peran aktif para
pelaku ekonomi ini pada akhirnya akan menjadikan dunia bisnis di Tanah Air surga bagi investor asing.

http://www.duniaesai.com/manajemen/man10.html

STUDI KASUS ETIKA PERUSAHAAN DAN PEMBAHASAN

STUDI KASUS ETIKA PERUSAHAAN DAN PEMBAHASAN

Kasus manipulasi laporan keuangan


Manipulasi laporan keuangan PT KAI

Dalam kasus tersebut, terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi.


Skandal Enron, Worldcom dan perusahaan-perusahaan besar di AS

Worldcom terlibat rekayasa laporan keuangan milyaran dollar AS. Dalam pembukuannya Worldcom mengumumkan laba sebesar USD 3,8 milyar antara Januari 2001 dan Maret 2002. Hal itu bisa terjadi karena rekayasa akuntansi.


Penipuan ini telah menenggelamkan kepercayaan investor terhadap korporasi AS dan menyebabkan harga saham dunia menurun serentak di akhir Juni 2002. Dalam perkembangannya, Scott Sullifan (CFO) dituduh telah melakukan tindakan kriminal di bidang keuangan dengan kemungkinan hukuman 10 tahun penjara. Pada saat itu, para investor memilih untuk menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di bursa saham.


Kasus Product Recall

Kasus Tylenol Johnson & Johnson

Kasus penarikan Tylenol oleh Johnson & Johnson dapat dilihat sebagai bagian dari etika perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan konsumen di atas segalanga, termasuk keuntungan perusahaan. Johnson & Johnson segera mengambil tindakan intuk mengatasi masalahnya. Dengan bertindak cepat dan melindungi kepentingan konsumennya, berarti perusahaan telah menjaga trust- nya.


Kasus obat anti nyamuk Hit

Pada kasus Hit, meskipun perusahaan telah meminta maaf dan berjanji untuk menarik produknya, ada kesan permintaan maaf itu klise. Penarikan produk yang kandungannya bisa menyebabkan kanker tersebut terkesan tidak sungguh-sungguh dilakukan. Produk berbahaya itu masih beredar di pasaran.


Kasus Baterai laptop Dell

Dell akhirnya memutuskan untuk menarik dan mengganti baterai laptop yang bermasalah dengan biaya USD 4,1 juta. Adanya video clip yang menggambarkan bagaimana sebuah note book Dell meledak yang telah beredar di internet membuat perusahaan harus bergerak cepat mengatasi masalah tersebut.


Dari ketiga kasus di atas, Hit merupakan contoh yang kurang baik dalam menangani masalahnya. Paradigma yang benar yaitu seharusnya perusahaan memperhatikan adanya hubungan sinergi antara etika dan laba. Di era kompetisi yang ketat ini, reputasi baik merupakan sebuah competitive advantage yang harus dipertahankan. Dalam jangka panjang, apabila perusahaan meletakkan keselamatan konsumen di atas kepentingan perusahaan maka akan berbuah keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.


Dugaan penggelapan pajak

IM3 diduga melakukan penggelapan pajak

dengan cara memanipulasi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai ( SPT Masa PPN) ke kantor pajak untuk tahun buku Desember 2001 dan Desember 2002. Jika pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran, dapat direstitusi atau ditarik kembali. Karena itu, IM3 melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar.

750 penanam modal asing (PMA) terindikasi tidak membayar pajak dengan cara melaporkan rugi selama lima tahun terakhir secara berturut-turut. Dalam kasus ini terungkap bahwa pihak manajemen berkonspirasi dengan para pejabat tinggi negara dan otoritas terkait dalam melakukan penipuan akuntansi.


Manajemen juga melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik dalam melakukan manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi, sehingga merugikan banyak pihak dan pemerintah. Kemungkinan telah terjadi mekanisme penyuapan (bribery) dalam kasus tersebut.


Pihak pemerintah dan DPR perlu segera membentuk tim auditor independen yang kompeten dan kredibel untuk melakukan audit investigatif atau audit forensik untuk membedah laporan keuangan dari 750 PMA yang tidak membayar pajak. Korporasi multinasional yang secara sengaja terbukti tidak memenuhi kewajiban ekonomi, hukum, dan sosialnya bisa dicabut izin operasinya dan dilarang beroperasi di negara berkembang.


4. Etika terhadap komunitas masyarakat
Tindakan Kejahatan Korporasi PT. Lapindo Brantas (Terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup di Sidoarjo, Jawa Timur)

Telah satu bulan lebih sejak terjadinya kebocoran gas di areal eksplorasi gas PT. Lapindo Brantas (Lapindo) di Desa Ronokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Kebocoran gas tersebut berupa semburan asap putih dari rekahan tanah, membumbung tinggi sekitar 10 meter.


Semburan gas tersebut disertai keluarnya cairan lumpur dan meluber ke lahan warga. tak kurang 10 pabrik harus tutup, 90 hektar sawah dan pemukiman penduduk tak bisa digunakan dan ditempati lagi, demikian juga dengan tambak-tambak bandeng, belum lagi jalan tol Surabaya-Gempol yang harus ditutup karena semua tergenang lumpur panas.


Perusahaan terkesan lebih mengutamakan penyelamatan asset-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan dan social yang ditimbulkan. Namun Lapindo Brantas akhirnya sepakat untuk membayarkan tuntutan ganti rugi kepada warga korban banjir Lumpur Porong, Sidoarjo. Lapindo akan membayar Rp2,5 juta per meter persegi untuk tanah pekarangan beserta bangunan rumah, dan Rp120.000 per meter persegi untuk sawah yang terendam lumpur.


5.

Etika terhadap buruh dan pekerja

BenQ, Kasus Pailit Dalam Ekonomi Global

Merjer bisnis telepon genggam perusahaan BenQ dan Siemens menjadi BenQ-Mobile awalnya bagai angin harapan, terutama bagi para pekerja pabrik di Jerman. Namun karena penjualan tidak menunjang dan banyak produk yang dipulangkan oleh pembelinya karena bermasalah, akibatnya dua pabrik BenQ, di Meksiko dan Taiwan, terpaksa ditutup. Karena itu BenQ melakukan restrukturisasi dan mem-PHK sejumlah pekerja.Hal ini sangat merugikan pihak buruh dan karyawan. Para pekerja merasa hanya dijadikan bahan mainan perusahaan yang tidak serius.



1.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kita tahu bahwa petilaku etis dan kepercayaan (trust) dapat mempengaruhi operasi perusahaan. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu:

1.

Berkaca dari beberapa contoh kasus di atas, kita dapat melihat etika dan bisnis sebagai dua hal yang berbeda. Memang, beretika dalam berbisnis tidak akan memberikan keuntungan dengan segera, karena itu para pelaku bisnis harus belajar untuk melihat prospek jangka panjang.
2.

Keunci utama kesuksesan bisnis adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain.
3.

Kemajuan teknologi informasi khususnya internet telah menambah kompleksitas kegiatan “public relation” dan “crisis management” perusahaan.
4.

Product recall dapat dilihat sebagai bagian dari etika perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan konsumen. Dalam jangka panjang, etika semacam itu justru akan menguntungkan perusahaan.
5.

Perilaku tidak etis khususnya yang berkaitan dengan skandal keuangan berimbas pada menurunnya aktivitas dan kepercayaan investor terhadap bursa saham dunia yang mengakibatkan jatuhnya harga-harga saham.
6.

Sanksi hukuman di Indonesia masih lemah jika dibandingkan dengan sanksi hukuman di AS. Di Amerika, pelaku tindakan criminal di bidang keuangan dikenai sanksi hukuman 10 tahun penjara sedangkan di Indonesia hanya diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek.

2.

Saran

Para pelaku bisnis dan profesi akuntansi harus mempertimbangkan standar etika demi kebaikan dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.


http://insidewinme.blogspot.com/2007/12/kasus-etika-bisnis-perusahaan.html